Tulisan ini dikutip dari diskusi di R@ntauNet rantaunet@googlegroups.com. Tulisan Saafrudin Bahar ini mengangkat ratapan Buya Mas’oed Abidin tentang berita 140 orang penderita HIV/AIDS di kota Bukit Tinggi nan tidak berapa jauh dari Nagari Awak Tercinta Guguak Tabek Sarojo. Agaknya, ratapan atau ungkapan perasaan Buya yang berjudul “Oh Bukittinggi-ku,…Apalah Artinya Kita Berbangga “1000 Kubah 1000 Gonjong”…kalau Kita Punya 140 Penderita AIDS”. Kalau tidak salah Buay Mas’oed adalah sumando Rang Guguak Tabek Sarojo. Mari kita inap-inapkan ungkapan perasaan beliau yang mengandung pesan moral dan teguran. Berpikir kembali. Semoga peristiwa yang melanda Bukittinggi tidak terjadi di Nagari kita.
“Oh Bukittinggi-ku,…Apalah Artinya Kita Berbangga “1000 Kubah 1000 Gonjong”…kalau Kita Punya 140 Penderita AIDS”
Oleh Buya Mas’oed Abidin
Bagikan
Sab pukul 15:49
Sungguh….
baju di dada rasa terkuyak…
puncak kuduk ini rasa dikampak…, ketika kudapat kabar di Bukittinggi –ranahku nan setumpak rancak ini , ternyata 140 kasus HIV AIDS tengah merebak….
Astagfirullahaladziiim…..!!
Ondeeh Mamak….!
Ondeee Mandeeeh…..!
Ondeee dunsanak…!
Kalau kurap dan tukak itu sudah meruyak di kulit kening….
Kalau aroma busuk ini sudah merasuk dari balik dinding…
Kemana muka sirah ini harus kita surukkan….?
Seribu GONJONG..seribu KUBAH sekalipun….seperti tak berati apa-apa ,ketika pada kenyataannya anak kemenakan kita asyik masyuk bermain-main dengan kemaluannya…
Adat Basandi Syarak,Syarak Basandi Kitabullah…; bukankah sepertinya membuat kita sudah berlama-lama terlena berkoar dalam Forum –forum seminar saja…?
Kita terbuai berceloteh dalam senandung semboyan belaka….
Berkali-kali kita menepuk dada ..
Berkali-kali kita berbangga-bangga untuk Mambangkik Batang Tarandam itu….
Sungguh kita tak sepenuhnya mengerti, Sanak…….
entah apa Nan Dibangkik….
entah Batang yang mana nan tarandam…..
kitapun hanyut…berlatah-latah dalam jargon dan semboyan….
Adat Nan Ndak Lapuak dek Hujan nan Ndak Lakang Dek Paneh, sungguh seperti sebuah IKLAN….(meyakinkan dalam ucapan, meragukan dalam kenyataan..kalaulah terlalu berlebihan dibilang menggamangkan…)
Apakah memang inilah kenyataan bahwa; cupak sudah diganti urang panggaleh… jalan lah dialiah si urang lalu..?
Berulang kali….kita sungguh telah bermurah-murah untuk bermahal-mahal berpesta pora dalam prosesi membagi-bagi Saluak Datuak….
Kita lewakan sanak saudara dalam kebanggaan sebagai Penghulu Negeri ,ketika yang beliau punya cuma sesungguhnya tak lebih dari Rupiah dan Gelar Perguruan Tinggi …….
Apakah kita yang sudah salah tonggok…?
Memasangkan mahkota Pemangku Negeri dalam sebuah impian keliru…..
Alhasil..sosok Datuak semakin berserak…tapi kenapa ‘paga nagari’ seperti rompak…?
Pematang ‘alua jo patuik’ itu seperti telah terban dihantam kegilaan zaman….
Ondeh Mamak……ondee Mandeee….
Walau tak ada nan menepuk air di selokan..tapi betapa muka ini serasa tersiram air comberan…?
Jujur, aku malu..
Apalah artinya kukoarkan pada banyak perantau, tentang Kemilau Jam Gadang ku Nan Memukau…?
Apalah artinya kubanggakan pada banyak orang, tentang Bukittinggiku nan Sabana Rancak…?
Apalah artinya kutegak..bersorak…menyerak-nyerakan kodak….dari Janjang Gantuang..Ngarai Sianok..Kebun Binatang…Benteng For De Kock….Hijau Biru Diantara Merapi dan Singgalang……sawah-sawah indah membentang dalam hamparan hijau sansai bakuliliang…?
Sungguh, betapa semua itu ternyata memang hanya KULIT….
Bukittinggi –ku nan Bak Nak Gadih Nan Jolong Gadang….
Gila melenggok…mangamek…dan bersolek sepanjang jalan…..
Ketika kota ini terus menggeliat dengan arah yang semakin membingungkan dan tak berkeseimbangan….
Kota pariwisatakah..kota perdagangankan..atau kota pendidikan …?
Diam-diam..Bukittinggiku menyingkap ragam cerita kebinalan….
Entah telah berapa kali koran2 mengabarkannya….
anak kemanakan kita tertangkap berbuat maksiat di tengah kota
walau, mungkin dia cuma si urang lalu…..
tapi taik kerbau itu telah berleak..berselemak di halaman rumah gadang itu…
Aaah…
Sudahlah mamak….sudahlah mande…..sudahlah dunsanak….
dengan Angka 140 pengidap HIV AIDS…
Sungguh ini bukan sebuah cerita ringan…..
Inilah sebuah kenyataan bahwa; betapa kita semua telah lama berlarut-larut tenggelam dalam SLOGAN dan SEMBOYAN..…..
Para orang tua, guru, rang mudo, dan angku datuak nan gadang basa batuah, marilah kita renungkan ungkapan perasaan Buya kita. Hal ini bisa menimpa siapa saja. Perhatikanlah tingkah laku, pergaulan anak kemanakan kita. Nagari awak dak bara jauah dari Bukik, jadi hal iko dak tertutup anak kemanakan kita bisa saja ikuik terkena.
HIV/AIDS tidak hanya menular melalui pergaulan bebas, tetapi juga penggunaan narkoba, jarum suntik yang tidak steril, transfusi darah dari orang yang telah tertular. Gejala penyakit ini tidak mudah untuk diketahui. Gejalanya baru kelihatan setelah 5-10 tahun. Jadi janganlah mendekati hal-hal yang memberi peluang bagi kita, anak kita, dan kemenakan kita terjangkiti penyakit yang belum ada obatnya ini.
Kuatkan bekal agama, moral, dan kepribadian anak kemenakan sejak di rumah. Ini adalah kunci menghindari hal ini. Jangan dekati zina, jika telah mampu lahir dan batin ikutilah sunnah rasul, menikahlah. Awasi penggunaan internet untuk hal-hal yang bisa memancing ke arah hal negatif seperti pornografi. Seperti kata bako ambo H. Yelvis, SE. Dt. Tan Bagindo “lamak bana diawak nan dilayar datar tu, sementara Allah memberikan kita yang halal, istri”.
Sitiran Buya di atas juga diarahkan pada semua, terutama niniak mamak. Semoga kita tidak termasuk orang-orang yang melalaikan amanah.
-7.558496
110.845549